Langsung ke konten utama

Postingan

Tipsy Talk: Kapan Nikah?

Pertanyaan kapan nikah ini rasanya udah ga asing bagi beberapa perempuan. Terlebih perempuan yang berusia 24 tahun ke atas. Rasanya makin sering aja tuh pertanyaan mampir ke kuping. Apalagi kalo lebaran. Mendapat pertanyaan kapan nikah seperti menjadi salah satu rutinitas yang harus dilalui selain solat ied dan makan ketupat. Tanggapan gue kalo mendapat pertanyaan kapan nikah adalah gue jawab dengan kalimat ga tau. Beneran karena memang ga tau gue nikahnya kapan. Jangankan pertanyaan kapan, sama siapanya aja gue kagak tau karena memang lagi single.  Gue pribadi ga merasa risih atau terganggu dengan pertanyaan tersebut. Mungkin karena fokus, prioritas dan tujuan terdekat gue sekarang belum ke arah sana. Jadi kalo ada yang nanya kapan nikah kapan nikah ya gue akan menjawab dengan enteng; ga tau. Gue justru malah terganggu ketika pertanyaan kapan nikah itu mempunyai pertanyaan turunan. Contoh: Spion Supra: Kapan Nikah? Aku: Wah ga tau nih.   Spion Supra...

Tuesday with Selasa

Selasa suka sekali dengan perayaan. Baginya, setiap momen penting patut dirayakan. Selasa tergila-gila dengan berprosesi. Saya suka terkejut selama bersama Selasa. Suka dalam artian rasa dan frekuensi. Tanggal 31 Desember yang bagi saya hanyalah tanggal biasa, disulap menjadi sebuah perayaan luar biasa oleh Selasa. “La, kamu kenapa sih suka banget merayakan tahun baru?” Tanya saya sembari menata lampu hias mengelilingi tanaman. Tahun itu adalah tahun pertama saya bersama Selasa. Tahun pertama bagi saya merayakan pergantian tahun. Sebuah pesta kebun sederhana . Halaman rumah Selasa sengaja diberi lampu hias yang dirambatkan ke tanaman. Lampu ini akan dinyalakan tepat pada jam 12 malam saat pergantian tahun. Selasa menyebut pesta ini bertema Renaissance .  Selasa yang sedang meletakkan baki sosis dan daging di atas meja menoleh ke arah saya sambil cemberut, “Kamu ga suka?” Saya tersenyum, “Itu pertanyaan La. Saya bertanya. Bukan masalah suka atau tidak suka.” ...

Vacancy: Adinda Mencari Kakanda

Judulnya memang agak jijik ya. Tapi temen gue yang mau gue ceritain kali ini memang bernama Adinda. Bagian “mencari kakanda” hanyalah akal-akalan gue aja biar nampak hiperbola dan lebih menjual.   Seperti biasa kalo di segmen Vacancy itu berarti gue akan menceritakan temen gue yang sedang berulang tahun dan jomblo. Temen gue yang sudah seharusnya merasa terhormat karena terpilih di segmen Vacancy kali ini adalah: Adinda. Adinda merupakan temen kuliah gue dulu. Bukan cuma itu, Dinda juga merupakan temen satu jurusan, temen satu dosen pembimbing akademik, temen satu geng, temen satu konsentrasi kuliah, bahkan temen satu dosen pembimbing skripsi! Kalo aja Adinda merupakan seorang laki-laki, mungkin kami sudah terlibat cinlok dan sekarang sedang sibuk mencetak undangan pernikahan. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, (((kita ketahui bersama))) Adinda ini sedang menjomblo. Bukan sedang sih sebenernya. Memang jomblo aja. Dari lahir...