Alasanku sangat menyukai mengikuti sekolah pra nikah adalah sarana belajar dan mempelajari diri sendiri. Salah satu hal yang kusadari adalah untuk memperolah pernikahan yang sakinah, mawadah, warahmah, kita perlu (belajar) menjadi seseorang yang qurrota a'yun. Dan untuk menjadi seseorang yang qurrota a'yun, garis start-nya bukan ketika sudah menikah atau punya calon pasangan. Tetapi dari detik ini. Detik di mana kita akhirnya menyadari bahwa segala sesuatunya bermula dari diri sendiri.
Aku sangat suka sekali dengan salah satu pernyataan dari pemateri kemarin. Beliau berkata, "jadilah hamba sebelum jadi apapun." Apapun peran kita nanti, baik menjadi seorang anak, seorang istri, seorang suami, seorang ayah, seorang ibu atau sebagai pekerja profesional, yang perlu kita ingat adalah tujuan kita untuk Allah semata. Jika sudah melibatkan Allah di setiap aspek kehidupan, maka kita akan ingat bahwa tujuan hidup kita tidak hanya dunia tetapi juga akherat.
Pematerinya bilang, ketika kita sudah berorientasi akherat maka hal tersebut dapat meminimalisasi kecewa. Aku sempat bertanya-tanya, kenapa demikian? Dan jawaban yang terpikir olehku adalah, ketika hidup kita sudah berorientasi pada akherat maka kita akan sadar betul bahwa hidup kita, mati kita dan ibadah kita hanyak untuk Allah semata. Jadi senantiasa ingat Allah dengan segala sifat-Nya. Yang Maha Mengetahui, Maha Perkasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan sebagainya.
Jadi menyandarkan hidup kepada sang pemilik kehidupan. Bukan kepada manusia. Ketika sesuatu terjadi ke hidup kita, fokus kita akan berpusat pada bagaimana cara kita merespon kejadian tersebut. Kita mengambil porsi kita sebagai manusia; sesuatu yang dapat kita kendalikan.
Pernyataan pemateri selanjutnya yang sangat aku suka adalah, "kita mungkin 'ga punya' rencana untuk menikahi orang tersebut. Tetapi Allah tidak mungkin tidak punya rencana ketika menikahkan dua manusia." Dan menikah kan sebuah nikmat ya. Maka alangkah baiknya jika kita mempersiapkan diri, memantaskan diri untuk memperoleh nikmat tersebut. Sehingga nantinya kita bisa menerima nikmat Allah dengan cara yang baik dan penuh rahmat.
Bagaimana cara persiapannya? Ya dimulai dari diri sendiri dengan cara memperbaiki diri. Makanya aku senang sekali dengan jargon Sekolah Cikal yaitu pembelajar sepanjang hayat. Karena sesungguhnya manusia memang perlu belajar seumur hidupnya.
Tema materi kemarin malam adalah "Komunikasi Sehat dengan Suami." Pematerinya adalah Febrianti Almeera. Masha Allah aku suka sekali dengan susunan cara berpikir beliau. Beliau menguatarakan bahwa, untuk memiliki komunikasi yang sehat maka kita perlu menyelaraskan cara pandang.
Beliau memberikan rumus FOL (frame life) = FOR (Frame of References) + FOE (Frame of Experiences). Rumus tersebut merupakan cara orang memandang sesuatu.
Contoh, ketika sakit ada orang yang langsung berobat ke dokter dan ada orang yang memilih untuk berikhtiar dengan minum ramuan herbal misalnya. Keputusan tersebut bisa kita kulik darimana datangnya. Caranya?
Lihat referensinya. Darimana ia mendapat referensi tersebut. Oh mungkin dari keluarga. Keluarganya berpikir bahwa sakit adalah penggugur dosa. Jadi "dirasa" dulu sakitnya sambil berikihtiar minum ramuan herbal.
Lalu lihat pengalamannya. Mungkin selama sakit ia dan keluarganya memang memiliki tubuh yang 'kuat' untuk menahan sakit. Sedangkan kita yang memilih ke dokter memiliki pengalaman yang lain.
Kalau sebagai individu, keputusan tersebut tidak menjadi masalah. Kalau aku sakit aku ke dokter, kalau kamu sakit ya tahan-tahanin sendiri aja. Tapi ketika menikah, keputusan tersebut menjadi keputusan bersama. Yang mana perlu diambil secara mufakat dong?
Maka dari itu butuh membuat keputusan baru. Keputusan aku dan kamu. Keputusan bersama. Perlu dikomunikasikan secara sehat. Cara mengobrol atau komunikasinya bisa menggunakan rumus tadi.
Kalau sudah ketemu latar belakang frame of life seseorang, kita akan jadi maklum. Kalau sudah maklum, insha Allah akan memudahkan kita untuk memahami. Kalau sudah maklum dan memahami maka akan lebih mudah membantu kita untuk berkompromi.
Ada poin menarik dari rumus ini. Pemateri bertanya, menurut kalian mana yang lebih memengaruhi perilaku seseorang; referensi hidup atau pengalaman? Kebanyakan peserta menjawab bahwa pengalaman lah yang paling memengaruhi hidup seseorang.
Pemateri tidak menafikan jawaban tersebut. Karena boleh jadi kita sudah belajar dari suatu referensi tapi pada praktik kehidupannya bisa berbeda.
Kemudia pemateri menjelaskan hal yang menurutku sangat briliant. Beliau berkata,
"Pengalaman memang lebih memengaruhi manusia. Namun, 'referensi' bagi seorang muslim seharusnya kedudukannya berada di atas pengalaman. Karena referensi bagi seorang muslim adalah Al-Qur'an dan Sunnah. Maka dari itu kita perlu belajar dan memperluas referensi. Dan mengamalkan referensi tersebut. Sehingga referensi itu bisa menjadi sebuah pengalaman."
COYYYY??? SHICK👀SHACK😮SHOCK😱. Masha Allah what a thinking:')
See? Kalian melihat polanya ga? Segala sesuatu porosnya adalah dari dalam. Dari diri sendiri.
Sehingga sangat penting bagi kita untuk berdoa agar Allah senantiasa merendahkan hati kita untuk mau terus belajar.
Karena menjadi istri yang baik, anak yang baik, ibu yang baik, belajarnya adalah dengan cara menjadi diri atau individu yang baik. Dan waktu yang tepat untuk belajar dan mempelajari diri sendiri adalah bukan "nanti." Nanti ketika sudah punya suami, nanti ketika sudah punya anak atau nanti ketika punya anak kedua. Tapi saat ini.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk mengusahakan atau mencari yang terbaik dengan cara menjadi yang terbaik.
Komentar
Posting Komentar