Langsung ke konten utama

Postingan

Sepenggal Cerita Tentang Idola

Mempunyai sosok idola merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Menurutku, idola adalah orang asing yang tidak terasa asing. Seseorang yang bisa menjadi bagian dari hidupmu meski tidak pernah bertatap muka. Minggu, 31 Maret 2019, Valentino Rossi mampu merebut podium ke 2 di GP Argentina. Momen tersebut  terasa sangat luar biasa karena sudah lama Rossi tidak naik podium sejak GP Jerman 2018. Terlebih lagi buat aku yang rela begadang, menahan kantuk dan dingin demi menonton race moto gp di benua Amerika yang waktunya terbolak-balik dengan waktu wilayah Indonesia. Saat melihat Rossi di podium aku bertanya-tanya ke diri sendiri, kenapa ya aku masih ngefans sama Valentino Rossi? Setelah 13 tahun lamanya. Ada pembalap yang lebih muda, lebih tampan, lebih HOT (omg!), bahkan pembalap yang saat ini prestasinya lebih mentereng ketimbang Valentino Rossi. Marc Marquez, misalnya. Meskipun aku adalah fans Valentino Rossi sejak kekaisaran Romawi tapi aku gak buta-buta amat sih. I know,...

Foto Blog: Brengsequeen Edisi Lembang Tiris

Hari ini tanggal 1 Maret 2019 pukul 00.38 wib. Seharusnya ogut udah tidur. Tapi realitanya malah ngetik depan laptop dalam keadaan kelaparan.  Tadi Ayumi ngirim foto-foto Brengsequeen ke grup chat. Brengsequeen ini adalah nama pertemenan (pengen ngetik geng tapi asa naon) yang isinya terdiri dari ogut, Tari, Ayumi, Aih, April dan Eva.  Yang pake kerudung merah itu namanya Astari, yang pake kerudung item itu namanya Ayumi, lalu perempuan berkerudung biru itu ogut, kemudian perempuan kerudung coklat sebelah ogut itu namanya Aih, di belakang Aih ada April dan di samping April ada Eva. Seinget gue, pertemanan ini terbentuk karena interaksi di antara kita yang lumayan intens karena sama-sama menjabat sebagai pimpinan BEM. Ya ampun masa-masa rapat melelahkan itu:') Kemudian suatu ketika Aih berinisiatif bikin grup chat yang isinya kita-kita. Awalnya sih isinya sebagai wadah curhat percintaan Aih yang sedang lasut. Lama-lama berubah jadi akun gosip *cikal-bakal lambe turah*...

Menembus Batas: Seni Patah Hati

Someone I loved once gave me a box full of darkness. It took me years understand that this too, was a gift. –Marry Oliver Kemarin gue membaca berita tentang pemuda yang bunuh diri dengan cara melompat dari rooftop salah satu mall di Lampung (semoga beliau ditempatkan di sebaik-baiknya tempat di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan.) Dari artikel yang gue baca, motif pemuda tersebut melakukan bunuh diri masih belum dapat dipastikan. Diduga motifnya adalah karena putus cinta. Meskipun motif bunuh diri pemuda tersebut belum dapat dipastikan, gue menemukan beberapa komentar netizen yang sangat tidak pantas, baik di media sosial maupun bahkan pada saat kejadian. Gue sampai harus menghirup dan menghela nafas yang sangat panjang dan dalam agar tidak tersulut emosi dan tidak menanggapi komentar-komentar tersebut secara reaktif. Gue tidak ingin menulis ulang komentar-komentar negatif tersebut di sini. Secara garis besar komentar negatif t...

Menembus Batas: Menjadi Sehat

Beberapa tahun belakangan ini gue sedang belajar dan mempelajari sesuatu yang menyenangan tetapi tidak mudah: diri sendiri. Ada suatu kejadian yang memutar balikkan sudut pandang gue selama ini. Patah hati. Emang sih kedengarannya cupu banget. Ah elah patah hati doang. “Cuma” patah hati. Gue juga tau sih hidup ini gak cuma cinta-cintaan doang. Tapi momen patah hati gue ini secara ajaibnya mempengaruhi dimensi-dimensi kehidupan gue yang lain. Gue juga sebenarnya bingung sih sama diri gue sendiri yang sampai sebegininya belajar untuk merekonstruksi bagian-bagian dari diri gue yang patah. Maksudnya, dulu setiap gue putus, move on mah move on aja. Gue pernah sesumbar bahwa gue adalah orang yang gampang move on . Based on my date experiences , itu benar adanya. Tapi momen patah hati kali ini adalah pengalaman yang baru buat gue. Dia bukan pacar gue. Bukan juga HTS. Bukan pula TTM. Yah sebut saja dia adalah orang yang gue nyaman sama dia. Dulu setiap gue abis putus, landasan move on ...

DAPET SURAT CINTA DARI HERJUNOT ALI!

Yes. You read it right. I got love letter from Herjunot Ali. This is not kind of delulu. For sure. Meski gue anaknya memang tukang halu babu gitu ya. Manggil Kevin dengan sebutan bapaknya anak-anak lah, suka kepengen rebahan di pundak kokohnya Marquez lah. Tapi kali ini beneran gaes. Ku tidak tipu-tipu. Ku beneran dapet surat cinta dari Herjunot Ali. Herjunot Alinya beneran Herjunot Ali lho ya. Artis itu lho. Bukan Herjunot tukang siomay yang suka lewat depan rumah gue. Nih Herjunot ini nih yang gue maksud cr: @Herjuno7Ali Mungkin sekarang kalian sedang bertanya-tanya ya di lubuk sanubari kalian yang terdalam. Aku yang nobody ini kok bisa dapet surat cinta dari kakanda Herju. (((Herju)))) #Akrab #SahabatKarib Jadi gini ceritanya. Semua ini berawal dari kak Ika Natassa bersama Gramedia Pustaka Utama yang membuat tantangan menulis #SuratCintaUntukHarris di Twitter. Harris yang dimaksud di sini adalah Harris Risjad. Tokoh utama di novel kak Ika Natassa yang berjudul Antolog...