Aku kemarin menonton video menarik tentang Najwa Shihab di channel youtube CXO Media. Di video tersebut ada suatu hal menarik yang disampaikan oleh Kak Nana (((kak nana))) #akrab #sahabatkarib. Najwa Shihab berkata seperti ini kita tuh kerap kali tidak reflektif. Ketika kita melakukan sesuatu dan tidak berhasil, kita kerap kali menyia-nyiakan kegagalan. Kadang kita sering melewatkan kesempatan tersebut. "Oh yaudah gagal so what?" Padahal kalo gagal harusnya ya now what?
Terkadang kita (aku sih h3h3) tidak memulai atau mencoba sesuatu karena takut akan kegagalan. Dicoba aja belum udah takut untuk gagal. Padahal setelah dipikir-pikir lagi, kalo gagal ya terus kenapa? Kata Koh Sinyo, kalo gak menang juga gak mati. Kalo gagal pun toh bisa dicoba lagi.
Di terms ilmu psikologi, hal itu disebut fear of failure. Hari ini aku membaca artikel Psychology Today yang berkaitan dengan fear of failure yaitu 5 Thought Patterns That Fuel The Fear of Failure. Ditulis oleh Dimitrios Tsatiris M.D. Kata Dimitrios, kebutuhan untuk mencapai sesuatu atau berprestasi sudah tertanam di DNA kita. Setiap orang memiliki ambisi terdalamnya masing-masing. Ada yang mempunyai ambisi dalam dunia karir, mendapatkan gelar, menemukan pasanga hidup dan sebagainya.
Namun sayangnya, sebagai seorang psikiater, Dimitrios sering menyaksikan keingingan atau mimpi kliennya tersebut hilang seperti abu; bukan karena kegagalan tapi karena ketakutan akan kegagalan. Ada kecemasan yang mencegah kita untuk bergerak maju menuju tujuan kita. Pikiran kita kadang dapat menghasilkan pemikiran yang tidak akurat atau disebut sebagai distorsi kognitif. Distorsi kognitif inilah yang memicu ketakutan di diri kita akan kegagalan. Dengan memperbaiki pikiran yang tidak akurat ini, kita dapat mengurangi kecemasan dan kembali ke jalan kita untuk mencapai tujuan atau target yang ingin kita capai.
Berikut 5 distorsi kognitif yang dapat mencegah kita dalam mencapai tujuah dan cara mengatasinya:
1. Failure is personal
Kita sering kali menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang personal dan lupa bahwa kegagalan adalah pengalaman universal. Semua orang pernah mengalami kegagalan. Bahkan orang-orang sukses pun mengalami kekecewaan dan kegagalam dalam prosesnya menuju puncak tangga kehidupan. Contohnya adalah legenda basket Michael Jordan. Michael Jordan pernah berkata, "I've missed more than 9000 shots in my career. I've lost almost 300 games. 26 six times, I've been trusted to take the game-winning shot and missed. I've failed over and over and over again in my life. And that is why I succeed."
Contoh lain adalah salah satu ilmuwan terkenal yaitu Thomas Alfa Edison. Mungkin kita semua tahu bahwa Thomas Alfa Edison gagal ribuan kali dalam percobaannya menemukan lampu. Namun beliau terus mencoba karena bagi Thomas Alfa Edison ia tidak gagal tetapi dia menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil.
Kuncinya adalah menganggap kegagalan sebagai pengalaman belajar yang berharga.
2. The cost of failure is great
Kita memperbesar ketakutan akan kegagalan dengan mengambil kesimpulan bahwa akan ada dampak yang besar jika kita gagal. Hasilnya adalah kita jadi menghindari kesempatan-kesempatan yang ada seperti melamar promosi jabatan, medaftar beasiswaa atau mengajak seseorang untuk minum kopi. Kita melompat ke kesimpulan tersebut tanpa mempertanyakan validitasnya. Misal, seberapa besar kerugian yang kita alami jika ajakan minum kopi kita ditolak oleh seseorang?
Dimitrios menganologikan kesempatan yang kita miliki sebagai tawaran kunci untuk membuka pintu kita. Hidup kita dapat berkembang ketika kita melewati pintu tersebut. Kita dapat mengambil kunci tersebut dan membuka pintu dengan mengambil kesempatan yang ada. Apa yang terjadi jika kunci yang kita ambil gagal berfungsi? Kita berada di realitas yang sama dengan memegang kunci yang tidak dapat digunakan. There's always another key.
3. There's no benefit to failure
Kita sering kali lebih berfokus pada aspek negatif kegagalan daripada melihat manfaat yang dapat diperoleh dari kegagalan tersebut. Kita lupa bahwa kegagalan merupakan pengalaman berharga yang membuat kita belajar dan bertumbuh. Bahkan kita lebih sering mendapat pelajaran dari kegagalan daripada kesuksesan.
4. If I fail then I am a failure
Kegagalan merupakan sesuatu yang menyakitkan secara emosional karena kita menafsirkan kegagalan sebagai dakwaan pribadi. Ketika kita gagal, kita mengalami rasa dan penurunan harga diri. Kenyatannya, kegagalan tidak mencerminkan diri kita sebenarnya. Ketika kita gagal itu berarti kita membuka ruang untuk belajar dan bertumbuh.
5. I have nothing to lose by staying put
Kita menghindari mengambil tindakan atau kesempatan karena kita berfokus pada apa yang mungkin salah. Kita lupa bahwa segala sesuatu memiliki dua sisi mata koin yang berbeda. Contoh, beasiswa LPDP merupakan beasiswa yang memiliki persaingan cukup ketat untuk mendapatkannya. Mendengar hal tersebut, kita menjadi takut untuk mencoba karena merasa akan gagal jika mencoba. Hasilnya kita tidak pernah mencoba sekalipun mendaftar LPDP. Hidup kita pun terus berada di status quo. Iya ini mah curhatan pribadi:( Padahal jika kita mencoba (aku maksudnya), ada kemungkinan lain. Kemungkinan untuk berhasil.
Maybe Adidas and Nike were right. Impossible is nothing. So just do it.
Komentar
Posting Komentar